Sabtu, 22 Oktober 2011

dari lampung untuk negri


Yon Haryono
Pria  kelahiran 6  Februari  1969 ini  dulunya   adalah  mantan  atlet    di  tahun 80-an. Yon tertarik  dunia angkat besi karena sosok almarhum Joko Buntoro, tetangganya. Suatu hari  Joko Buntoro pulang dari pemusatan latihan nasional (pelatnas) angkat besi di  Jakarta dengan memakai jaket. “Waktu  itu  saya membayangkan alangkah senangnya  bisa ke Jakarta,”  ujar Yon.
Pada  saat ia  duduk   di   bangku kelas  V SD, Yon lantas bergabung dengan sasana angkat  besi Gajah Lampung. Cita-citanya sangat   sederhana; ingin memakai jaket seperti Joko Buntoro dan  pergi ke luar negeri. Gajah Lampung adalah  sasana terkenal di Pringsewu, Lampung. Sasana atau pedepokan ini dikelola Imron  Rosyadi, nama besar dalam kancah angkat besi Indonesia sejak  tahun 60-an.
Setelah satu tahun berada di bawah gemblengan Imron yang  sangat keras, Yon merebut perak untuk semua kategori angkatan (snatch, clean  and jerk, serta total) dalam kejurnas remaja yunior. Pada 1983 Yon hijrah ke  Jakarta karena mendapat beasiswa bersekolah sembari latihan di SMP Ragunan,  sekolah khusus atlet. “Saya  satu  angkatan  sama  Susi   Susanti dan  Yayuk  Basuki,”   tuturnya.
Saat duduk di SMA Ragunan, Yon bergabung dengan pelatnas  persiapan Olimpiade Seoul 1988. Turun di kelas 56 kilogram, Yon menempati  urutan ke-12. Pada 1988 ia juga menjajal kejuaraan dunia dan mendapati dirinya  berada di peringkat ketujuh. Dalam  persiapan mengikuti Olimpiade 1988, Yon ditangani pelatih Polandia, Waldemar  Basanovsky, selama dua tahun. Ia  juga  sempat ditangani pelatih China, Huang. Dari kedua pelatihnya  ini lah Yon memiliki  bekal   untuk bisa mengajarkan orang  lain  teknik  olahraga  angkat besi dengan baik.
Pada 1991 Yon mengalami cedera  saat mengikuti kejurnas senior. Tulang siku tangan kirinya lepas. Selama 1991  ia tidak berlatih. Yon baru berlatih lagi tahun 1992 dibimbing Imron.  Setahun kemudian Yon mendapat panggilan bergabung dengan pelatnas SEA Games  1993. Ia menolak. Ia memilih berkonsentrasi mengikuti PON 1993 agar bisa  menyumbangkan emas bagi Lampung.
Ia mengikuti PON 1993 di kelas 59 kilogram. Saat Yon melakukan angkatan snatch  110 kilogram guna memburu emas, cederanya kambuh. Ia gagal menyumbangkan  medali. Inilah pertandingan angkat besi terakhir yang diikutinya sebagai atlet.
Meski  berhenti  menjadi   atlet, tapi  mimpi besarnya  sebagai   atlet  angkat besi  yang   bersinar  ia  tularkan pada   anak-anak  lain di  kampungnya.   Sejak  tahun  2000   ia mulai membagi  ilmunya  dengan   anak-anak  di desa Tejosari,  Metro, Lampung.  Murid  angkatan  pertamanya  antara lain adalah  Eko Yuli   Irawan dan Triyatno. Mereka belajar di sasana  sederhana dengan alat-alat bekas dari Joko Buntoro. Satu orang lagi  muridnya adalah Edi Kurniawan, lifter nasional peraih emas SEA Games dan ikut  dalam Olimpiade 2008.
Delapan tahun setelah Yon memperkenalkan olahraga angkat besi untuk pertama  kalinya, Eko dan Triyatno mengharumkan nama Indonesia dengan merebut medali  perunggu Olimpiade Beijing 2008. Eko waktu itu mendapatkannya dari kelas 56  kilogram, sedangkan Triyatno dari kelas 62 kilogram. Sejak  itu   Eko dan  Triyatno  menjadi atlet   berprestasi   dan  ternama  di   cabang  angkat besi.
Yon kemudian   meneruskan pelatihan  pada  anak-anak lain. Ia  bertekad untuk  menciptakan  “Eko  dan Triyatno baru”  di sasananya.
Saat  ini   Yon masih  melatih sekitar  25   anak  kampung  Tejosari, Metro  Lampung. Mereka  terdiri   dari anak-anak   antara  siswa   SD  sampai lulusan  SMA. Mereka   berlatih dengan  alat-alat  bekas yang   sebagian sudah  rusak.  Tak hanya dari  alat barbel, tapi  sampai   urusan  sepatu  lifter   dan  ikat pinggang. “Kadang  Eko   dan Triatno suka  bawa  sepatu dan   ikat pinggang bekas  mereka  untuk dipakai   adik-adiknya  di sini,”   kata   Yon.
Sasana  tempat  mereka   berlatih   berupa  bangunan semi permanen dan berada  di   tengah-tengah  kebon pisang.  Tanahnya  milik  seorang penduduk  yang meminjamkannya dan  bangunan sasana  dibuat   dari hasil  gotong royong  para   orang tua, yang menginginkan anak-anaknya  kelak   bisa  seperti  Eko dan Triyatno.
Yon  tidak  berani menjalankan program pelatihan secara  sempurna, menurutnya, sarana dan prasarana   sangat  tidak memadai.  “Terutama  jika  berbicara   masalah  gizi,”  katanya. 
Maklum,   kebanyakan  murid-murid  Yon adalah   anak-anak penduduk  sekitar  yang kebanyakan orang tuanya  hanya   berprofesi  sebagai petani,  kuli bangunan, dan  buruh harian.
Namun  demikian   jangan ragukan kesungguhan Yon   dan anak-anak  didiknya. Meski dalam  keterbatasan  atlet atlet angkat besi  dari  sasana  sederhana ini   telah  membuktikan  prestasinya   di  ajang  Kejurnas Remaja  tahun   2010  dan  di   ajang  Kejurnas Yunior  di   Jakarta  tahun 2011 dengan  menggondol sejumlah medali.