Pria kelahiran 6 Februari 1969 ini dulunya adalah mantan atlet di tahun 80-an. Yon tertarik dunia angkat besi karena sosok almarhum Joko Buntoro, tetangganya. Suatu hari Joko Buntoro pulang dari pemusatan latihan nasional (pelatnas) angkat besi di Jakarta dengan memakai jaket. “Waktu itu saya membayangkan alangkah senangnya bisa ke Jakarta,” ujar Yon.
Pada saat ia duduk di bangku kelas V SD, Yon lantas bergabung dengan sasana angkat besi Gajah Lampung. Cita-citanya sangat sederhana; ingin memakai jaket seperti Joko Buntoro dan pergi ke luar negeri. Gajah Lampung adalah sasana terkenal di Pringsewu, Lampung. Sasana atau pedepokan ini dikelola Imron Rosyadi, nama besar dalam kancah angkat besi Indonesia sejak tahun 60-an.
Setelah satu tahun berada di bawah gemblengan Imron yang sangat keras, Yon merebut perak untuk semua kategori angkatan (snatch, clean and jerk, serta total) dalam kejurnas remaja yunior. Pada 1983 Yon hijrah ke Jakarta karena mendapat beasiswa bersekolah sembari latihan di SMP Ragunan, sekolah khusus atlet. “Saya satu angkatan sama Susi Susanti dan Yayuk Basuki,” tuturnya.
Saat duduk di SMA Ragunan, Yon bergabung dengan pelatnas persiapan Olimpiade Seoul 1988. Turun di kelas 56 kilogram, Yon menempati urutan ke-12. Pada 1988 ia juga menjajal kejuaraan dunia dan mendapati dirinya berada di peringkat ketujuh. Dalam persiapan mengikuti Olimpiade 1988, Yon ditangani pelatih Polandia, Waldemar Basanovsky, selama dua tahun. Ia juga sempat ditangani pelatih China, Huang. Dari kedua pelatihnya ini lah Yon memiliki bekal untuk bisa mengajarkan orang lain teknik olahraga angkat besi dengan baik.
Pada 1991 Yon mengalami cedera saat mengikuti kejurnas senior. Tulang siku tangan kirinya lepas. Selama 1991 ia tidak berlatih. Yon baru berlatih lagi tahun 1992 dibimbing Imron. Setahun kemudian Yon mendapat panggilan bergabung dengan pelatnas SEA Games 1993. Ia menolak. Ia memilih berkonsentrasi mengikuti PON 1993 agar bisa menyumbangkan emas bagi Lampung.
Ia mengikuti PON 1993 di kelas 59 kilogram. Saat Yon melakukan angkatan snatch 110 kilogram guna memburu emas, cederanya kambuh. Ia gagal menyumbangkan medali. Inilah pertandingan angkat besi terakhir yang diikutinya sebagai atlet.
Meski berhenti menjadi atlet, tapi mimpi besarnya sebagai atlet angkat besi yang bersinar ia tularkan pada anak-anak lain di kampungnya. Sejak tahun 2000 ia mulai membagi ilmunya dengan anak-anak di desa Tejosari, Metro, Lampung. Murid angkatan pertamanya antara lain adalah Eko Yuli Irawan dan Triyatno. Mereka belajar di sasana sederhana dengan alat-alat bekas dari Joko Buntoro. Satu orang lagi muridnya adalah Edi Kurniawan, lifter nasional peraih emas SEA Games dan ikut dalam Olimpiade 2008.
Delapan tahun setelah Yon memperkenalkan olahraga angkat besi untuk pertama kalinya, Eko dan Triyatno mengharumkan nama Indonesia dengan merebut medali perunggu Olimpiade Beijing 2008. Eko waktu itu mendapatkannya dari kelas 56 kilogram, sedangkan Triyatno dari kelas 62 kilogram. Sejak itu Eko dan Triyatno menjadi atlet berprestasi dan ternama di cabang angkat besi.
Yon kemudian meneruskan pelatihan pada anak-anak lain. Ia bertekad untuk menciptakan “Eko dan Triyatno baru” di sasananya.
Saat ini Yon masih melatih sekitar 25 anak kampung Tejosari, Metro Lampung. Mereka terdiri dari anak-anak antara siswa SD sampai lulusan SMA. Mereka berlatih dengan alat-alat bekas yang sebagian sudah rusak. Tak hanya dari alat barbel, tapi sampai urusan sepatu lifter dan ikat pinggang. “Kadang Eko dan Triatno suka bawa sepatu dan ikat pinggang bekas mereka untuk dipakai adik-adiknya di sini,” kata Yon.
Sasana tempat mereka berlatih berupa bangunan semi permanen dan berada di tengah-tengah kebon pisang. Tanahnya milik seorang penduduk yang meminjamkannya dan bangunan sasana dibuat dari hasil gotong royong para orang tua, yang menginginkan anak-anaknya kelak bisa seperti Eko dan Triyatno.
Yon tidak berani menjalankan program pelatihan secara sempurna, menurutnya, sarana dan prasarana sangat tidak memadai. “Terutama jika berbicara masalah gizi,” katanya.
Maklum, kebanyakan murid-murid Yon adalah anak-anak penduduk sekitar yang kebanyakan orang tuanya hanya berprofesi sebagai petani, kuli bangunan, dan buruh harian.
Maklum, kebanyakan murid-murid Yon adalah anak-anak penduduk sekitar yang kebanyakan orang tuanya hanya berprofesi sebagai petani, kuli bangunan, dan buruh harian.
Namun demikian jangan ragukan kesungguhan Yon dan anak-anak didiknya. Meski dalam keterbatasan atlet atlet angkat besi dari sasana sederhana ini telah membuktikan prestasinya di ajang Kejurnas Remaja tahun 2010 dan di ajang Kejurnas Yunior di Jakarta tahun 2011 dengan menggondol sejumlah medali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar